KONI PAMEKASAN – Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti Kabupaten Pamekasan, Madura, Senin (16/2). Rombongan utusan-dalem dari Kraton Mataram Surakarta yang dipimpin langsung oleh Gusti Moeng melaksanakan ritual adat “nyadran” dalam rangka tradisi bulan Ruwah Tahun Dal 1959.
Kedatangan rombongan kraton ini sontak menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, agenda nyadran kali ini dilakukan dengan menyeberang ke Pulau Madura untuk berziarah ke salah satu makam penting yang menjadi bagian dari sejarah besar Dinasti Mataram.
Lokasi utama yang diziarahi yakni Astana Pajimatan, makam Adipati Tjakra Adiningrat III, leluhur yang memiliki keterkaitan erat dengan garis sejarah Dinasti Mataram. Makam tersebut berada di Desa Kolpajung, Kecamatan Kota, Kabupaten Pamekasan.
Tradisi Ruwah yang Penuh Makna
Nyadran merupakan tradisi luhur yang telah diwariskan turun-temurun oleh keluarga kraton sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, sekaligus sebagai upaya spiritual untuk menjaga ikatan sejarah, budaya, dan doa keselamatan.
Dalam ritual tersebut, rombongan kraton melakukan serangkaian prosesi, mulai dari doa bersama, tabur bunga, hingga penghormatan khusus di area makam.
Warga sekitar tampak antusias menyaksikan kegiatan tersebut. Banyak yang menganggap momentum ini sebagai peristiwa langka dan membanggakan, karena Pamekasan kembali menjadi titik penting dalam jalur sejarah kebudayaan Jawa-Madura.
PSHT Pamekasan Turut Diundang dan Sambut Hangat
Menariknya, dalam prosesi nyadran kali ini, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Pamekasan turut mendapatkan undangan khusus.
PSHT Cabang Pamekasan menyambut baik tradisi tahunan tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk pelestarian budaya serta penghormatan terhadap leluhur bangsa.
Kehadiran PSHT juga menambah kekhidmatan prosesi, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat menjadi jembatan persaudaraan lintas komunitas.
Jadi Magnet Budaya dan Wisata Religi
Tradisi nyadran utusan kraton ini dinilai bukan hanya sekadar ritual, namun juga menjadi daya tarik budaya yang berpotensi besar mengangkat wisata religi dan sejarah Pamekasan.
Astana Pajimatan Kolpajung pun kembali menjadi sorotan, sebagai salah satu situs penting yang menyimpan jejak sejarah panjang hubungan Dinasti Mataram dengan Madura.
Masyarakat berharap tradisi ini terus dilestarikan, karena selain memperkuat nilai spiritual, juga menjadi pengingat bahwa Madura memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Nusantara.
“Ini bukan sekadar ziarah, tapi juga simbol persaudaraan budaya dan sejarah antara kraton dan masyarakat Madura,” ujar salah satu warga yang menyaksikan kegiatan tersebut.
Dengan berlangsungnya tradisi Ruwah Tahun Dal 1959 ini, Pamekasan kembali menegaskan diri sebagai daerah yang kaya sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur yang terus hidup hingga hari ini.







