KONI PAMEKASAN — Jurnalis Muda Pamekasan (JMP) sukses menggelar kegiatan Jalan-Jalan Sehat (JJS) dalam rangka pengukuhan pengurus JMP sekaligus peringatan Hari Gizi Nasional, Minggu (25/1). Kegiatan ini berlangsung meriah dan mendapat sambutan luas dari berbagai elemen masyarakat.
Kegiatan JJS tersebut merupakan hasil kolaborasi antara JMP, Badan Gizi Nasional Kabupaten Pamekasan, serta seluruh SPPG se-Kabupaten Pamekasan. Peserta berasal dari kalangan pelajar, siswa-siswi tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua KONI Kabupaten Pamekasan, H. Faruk Ali, beserta jajaran pengurus KONI. Kehadiran pimpinan KONI menjadi bentuk dukungan nyata terhadap peran jurnalis muda dalam mengedukasi masyarakat serta mendorong kegiatan positif dan sehat di tengah masyarakat.
Selain JJS dengan berbagai hadiah menarik, acara juga dimeriahkan oleh penampilan musik dari warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pamekasan, yang sukses menyedot perhatian peserta dan pengunjung.
Rangkaian kegiatan JMP ini tidak berhenti pada JJS saja. Hingga malam hari, acara akan dilanjutkan dengan pengukuhan pengurus JMP, penganugerahan belasan SPPG terbaik di Kabupaten Pamekasan, serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan puluhan sponsor sebagai bentuk dukungan program JMP selama satu tahun ke depan.
Dalam kesempatan yang sama, Lapas Kelas IIA Pamekasan menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan dengan berpartisipasi aktif dalam kegiatan publik tersebut. Lapas menampilkan berbagai hasil karya kreativitas warga binaan, mulai dari furnitur, tata boga, hingga seni musik daul dan band.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah miniatur Monumen Arek Lancor yang dibuat oleh warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan. Miniatur tersebut rencananya akan dijadikan cenderamata bagi para pemenang MBG terbaik.
Faris, selaku Kasi Binadik Lapas Kelas IIA Pamekasan, menjelaskan bahwa partisipasi Lapas dalam kegiatan ini merupakan bentuk transparansi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat terkait program pembinaan yang berjalan.
“Kami berharap ke depan program pembinaan di Lapas terus meningkat, terutama dalam hal kreativitas. Di sini kami membuka stand yang menampilkan hasil karya warga binaan, seperti furnitur dan hasil tata boga,” ujarnya.

Ia menambahkan, program pembinaan tersebut tidak hanya untuk mengisi waktu selama masa pidana, tetapi juga sebagai bekal keterampilan (life skill) agar warga binaan siap kembali ke tengah masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka mampu dan layak untuk kembali dan diterima di tengah masyarakat setelah bebas nanti,” tambahnya.
Kegiatan ini pun mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak pengunjung mengaku terkejut dengan kualitas produk furnitur serta penampilan musik daul yang dinilai tidak kalah bersaing dengan produk dan pertunjukan di luar Lapas.
Melalui kegiatan ini, diharapkan stigma negatif terhadap warga binaan dapat perlahan terkikis, serta digantikan dengan dukungan moral dan kepercayaan agar mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan produktif di masa depan.







